Home / Studi Qur'an / AL-IKSIR FI TARJAMAT NAZM ILM AL-TAFSIR: KONTRIBUSI MBAH BISRI MUSHTOFA

AL-IKSIR FI TARJAMAT NAZM ILM AL-TAFSIR: KONTRIBUSI MBAH BISRI MUSHTOFA

Seputar Kitab Al-Iksir fi Tarjamat Nazm Ilm al-Tafsir

Siapa yang tidak kenal dengan kitab Al-Ibriz li Marifat Tafsir al-Quran al-Aziz? Kitab tafsir yang karya KH. Bisri Mushtofa Rembang yang populer dengan sebutan mbah Bisri? Kitab tafsir ini banyak dikaji di pesantren-pesantren Indonesia. Namun, tidak banyak yang kenal dengan karangan beliau yang berjudul Al-Iksir fi Tarjamat Nazm Ilm al-Tafsir.

Kitab al-Iksir adalah kitab terjemahan dan penjelasan (syarh) dari nazm ilmu tafsir yang ditulis oleh Syaikh Abd al-Aziz al-Zamzami (w. 963 H/ 1556 M). Mbah Bisri selesai menulis Kitab syarh ini pada 8 Safar 1380 H atau 1 Agustus 1960 M. Selain itu, Beliau menulis kitab Al-Iksir setelah beliau menyelesaikan terjemah manzumat al-baiquni tentang ilmu mushtalah al-hadith atas dorongan dari Kiai Zainal Abidin Banyu Urip Alit Pekalongan.

Dalam kitab al-Iksir ini, mbah Bisri menggunakan bahasa jawa pegon yang khas dalam lingkungan pesantren. Adapun Penggunaan jawa pegon ini bertujuan untuk memudahkan pembaca dan mencakup lingkup yang lebih luas. Beliau tidak serta merta menerjemahkan dan menjelaskan kandungan nazm ilmu tafsir karya Syaikh Abd al-Aziz al-Azam berdasarkan pada pemikiran dan pengetahuannya, tetapi beliau juga mendasarkannya kepada refrensi-refrensi dari berbagai kitab.

Di antaranya adalah kitab Ilmu Tafsir karya Imam al-Suyuti, Mahya al-Tafsir karya Syaikh Muhammad Asad al-Bugisi, Al-Itqan fi Ulum al-Quran karya Imam al-Suyuti, Siraj al-Qari al-Mubtadi wa Tazkar al-Muqri al-Muntaha karya Imam al-Shatibi, Ghaith al-Naf fi al-Qiraat al-Sab karya Imam Ali al-Nuri al-Safaqasi, Fath al-Rahman li Talib Ayat al-Quran karya Syaikh Faidl Allah bin Alami dan lain sebagainya.

Maksud dan Tujuan

Kebiasaan dalam aksara jawa pegon adalah banyaknya tanda-tanda khusus untuk makna-makna tertentu. Tanda-tanda khusus dalam pemaknaan jawa pegon sangatlah beragam. Mbah Bisri sedikit sekali menggunakan tanda dalam menerjemahkan nazm ilmu tafsir tersebut agar tidak membosankan pembaca, seperti م tanda mubtada’, خ tanda khabar, ف tanda fa’il dan lain sebagainya. Mbah Bisri tentunya mempunyai visi dalam menulis kitab al-Iksir. Dalam kitab al-Iksir beliau berkata: “Pengajeng-ajengipun al-faqir, mugi-mugi Allah Taala paring manfaat dunia wa ukhra dating kitab tarjamah meniko khususipun kangge al-faqir piyambak sa berayat, kangge poro mitro ing kang sami remen, amin.” Oleh karena itu, Mbah Bisri mengharapkan manfaat di dunia dan di akhirat dengan hadirnya kitab al-Iksir baik bagi beliau secara khusus dan para pembaca secara umum.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *