Di balik Alquran—sebagai kitab suci—terdapat hubungan dialektis antara teks dengan realitas sehingga untuk menyusun puzzle pandangan dunia Alquran secara utuh meniscayakan alat bantu ‘Ilm Mawatin al-Nuzul: Pembahasan tentang ihwal peristiwa nas-nas Alquran, mencakup waktu, tempat, pihak, dan bagaimana peristiwa tersebut terjadi. Karena itu, memahami ‘Ilm Mawatin al-Nuzul menempati titik krusial dalam memahami Alquran itu sendiri.
Imam Jalal al-Din al-Suyuti dalam kitab Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an menjelaskan‘Ilm Mawathin al-Nuzul terbagi ke dalam beberapa bagian, yaitu al-hadhari dan al-safari, al-nahaari dan al-laili, al-shaifi dan al-syita’i, al-firaasyi dan al-naumi, dan al-ardhi dan al-sama’i. Selain Imam al-Suyuti, Mbah Bishri juga terekam menulis cabang keilmuan ini, yang tertulis dalam kitab Al-Iksir fi Tarjamati Nadzmi ‘Ilmi al-Tafsir. Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai al-hadhari dan al-safari.
Secara sederhana, al-hadhari dan al-safari “hanya” membahas kondisi Rasulullah SAW ketika menerima Alquran, apakah Rasulullah sedang berada pada momentum perjalanan, atau tidak. Ketika dihubungkan dengan berbagai realitas lain, al-hadhari dan al-safari dapat menjadi sumbangsih untuk merekosntruksi realitas dari sebuah ayat. Dalam kitabnya, Mbah Bishri menulis:
“Nau’ (macam) kaping telu lan kaping papat iyo iku: al-hadhari wa al-safari. Dawuh-dawuh hadhari, tegese temurun naliko kanjeng Nabi ora nuju tindakan. Iki akeh banget. Dene dawuh safari, tegese temurun naliko kanjeng Nabi nuju tindak. Iku ora akeh.”
Maksud penjelasan dari mbah Bishri adalah al-hadhari merupakan ayat yang turun ketika Nabi Muhammad SAW tidak berada dalam satu perjalanan (ora nuju tindakan). Sebaliknya, al-safari merupakan ayat-ayat yang turun saat Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan (nuju tindak). Ayat yang turun pada masing-masing dua keadaan itu berbeda. Ayat yang turun pada kondisi pertama berjumlah sangat banyak—untuk tidak mengatakan mayoritas, sedang yang turun pada kondisi kedua sedikit.
Ayat-ayat- yang turun pada saat Nabi Muhammad SAW sedang dalam perjalanan di antaranya adalah ayat-ayat berikut:
- Ayat terkait tayammum dalam surat al-Maidah yang turun ketika Nabi berada di Dzait al-Jaish atau al-Baida’ (lingkungan di kota Madinah tepatnya di sebelah barat Arab Saudi) setelah kembali dari peperangan Muraisi’ pada bulan Sya’ban tahun 6 hijriyah. Keterangan ini bersumber dari riwayat A’isyah.
- Surat al-Fath yang turun pada saat Nabi Muhmmad SAW ada di Kura’inil Ghamim yang terletak di antara Makkah dan Madinah berdasarkan riwayat Mujammi’ bin Jariyah. Dalam riwayat Miswar bin Makhramah dan Marwan bin Hakim, keduanya berkata bahwa surat al-Fath dari awal hingga akhir turun di antara kota Makkah dan kota Madinah terkait dengan perang Hudaibiyah.
- Ayat ﵟوَٱتَّقُواْ يَوۡمٗا تُرۡجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِۖ ﵞ turun pada saat Nabi Muhammad SAW berada di Mina pada saat Haji Wada’. Keterangan ini berdasarkan riwayat yang dikeluarkan imam al-Baihaqi dalam kitab Al-Dalail.
- Ayat ﵟءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚﵞ hingga akhir surat al-Baqarah turun pada saat hari pembebasan kota Makkah atau yang sering disebut dengan Fathu Makkah.
- Surat al-Anfal turun pada saat perang Badar dan setelah selesainya perang Badar sebagaimana riwayat yang dikeluarkan ileh imam Ahmad dari Sa’di bin Abi Waqash.
- Ayat ﵟٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ ﵞ turun di Arafah pada saat Haji Wada’ sebagaimana riwayat dari Umar. Akan tetapi berdasarkan riwayat dari Ibn Mardawaih dari Abi Sa’id al-Khudri mengatakan bahwa ayat tersebut turun terkait dengan hari Ghadir Khumm.
- Ayat ﵟوَإِنۡ عَاقَبۡتُمۡ فَعَاقِبُواْ بِمِثۡلِ مَا عُوقِبۡتُم بِهِۦۖﵞ turun pada saat perang Uhud di mana Hamzah terbunuh dan mati syahid dalam peperangan itu sebagaimana riwayat dari Abu Hurairah. Sedangkan riwayat dari Ubay bin Ka’ab mengatakan bahwa ayat tersebut turun pada saat hari pembebasan Makkah (Fath Makkah).
Kemudian Mbah Bishri Mustafa menjelaskan bahwa selain ketujuh ayat yang tersebut, masih banyak ayat-ayat lainnya yang turun pada saat Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan. Ketujuh ayat tersebut hanya sebagai sampling contoh untuk mendapat gambaran singkat. Namun Mbah Bishri tidak menjelaskan kondisi hadari karena jumlahnya sangat banyak. Artinya, ketika seorang mengetahui ayat safari yang sedikit, ia sudah bisa menyimpulkan bahwa sisanya adalah hadari.





